Pesantren Motivasi Indonesia Untuk Pertama Kali Adakan Festifal Kuliner

Budayabangsabangsa.com,  Kabupaten Bekasi – Pesantren Motivasi Indonesia, Setu-Bekasi,  bekerja  sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, menggelar Festival Kuliner Pesantren dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN).

Sebagai bentuk kepedulian pesantren dalam kemajuan ekonomi dimasa pandemi COVID-19, bertempat di Pondok Pesantren Motivasi, Jalan Istana Yatim, RT. 003, RW. 001, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Bekasi Kabupaten, dihadiri oleh Dirjen (Direktorat Jendral) Pendidikan Agama Islam Kementrian Republik Indonesia (RI), Sabtu (17/10/2020).

Festival Kuliner Pesantren pertama ini  digagas oleh KH Ahmad Nurul Huda yang akrab dipanggil Ayah Enha selaku Pengasuh Pondok Pesantren Motivasi Indonesia, kegiatan festival pesantren yang memperkenalkan produk-produk asli kreatif anak-anak pesantren ini, turut hadir dalam acara beberapa perwakilan pemerintahan dan para tokoh, seperti, Gubernur Jawa Barat yang diwakili oleh Kabid Dinsos Pemda Jawa Barat, Dirjen Pendidikan Agama Islam Kementrian RI (Prof. DR. Muhammad Ali Ramdhani), Staff khusus Menteri Agama RI (H. Kevin Haikal. S.H.), Kementerian Agama Kabupaten Bekasi (H.Sobirin) beserta jajaran, Kapolsek Setu (AKP Dedi Herdiana), perwakilan Kecamatan Setu, Perwakilan MUI Kabupaten Bekasi, perwakilan dinas pariwisata Kabupaten Bekasi, para tokoh ulama, para pengusaha Kabupaten Bekasi, para pendiri Pondok Pesantren Kabupaten Bekasi, para santri dan yang lainnya.

“Didalam acara ini pondok pesantren Motivasi mempunyai gagasan untuk mempertahankan finasial. Dimasa pandemi COVID ini banyak yang mengalami kesulitan dalam finansial, disini kita mengajak para santri untuk berwirausaha guna menambah pemasukan finansial, disini kita mengajak para santri untuk berkreatifitas dengan membuat sesuatu yang bisa bermanfaat.”Tutur Ustad Ardiansyah (Ketua Panitia).

“Apa lagi Pondok pesantren yang santrinya tinggal disini, artinya kita harus bangkit dari keterpurukan ini, dengan cara kita harus memproduksi suatu produk yang bisa menghasilkan.” Tambahnya.

” Disini kita juga sudah membuat produk asli dari pesantren kita (pesantren Motivasi), yaitu produk sabun, sedangkan produk unggulan kita adalah minuman kekinian dan kopi santri yang memakai kopi asli robusta, nah semua itu sudah kita produksi tinggal cara pemasarannya, maka dari itu, kita meminta bantuan pengasuh pondok pesantren motivasi K.H. Ahmad Nurul Huda yang biasa disapa ayah Enha “, Lanjutnya.

Lebih lanjut K.H. Enha menuturkan, festival kuliner pesantren ini pertama kali yang diadakan oleh pesantren, acara ini untuk mengakat bahwa pesantren itu adalah lembaga yang multi talenta, bukan saja hanya bisa mengaji tetapi pesantren bisa memasak, berdagang dan sebagainya, kepesertaan kami juga sudah ada sekitar 100 perwakilan dari pesantren yang ada di Kabupaten Bekasi, tapi yang menghadirkan produknya baru sekitar 12 pesantren.”

K.H. Enha juga menambahkan.”Disini kita lebih mengusung produk kuliner, karena kuliner menjadi salah satu produk yang banyak menjadi perbincangan dimasa pandemi COVID-19, selain itu kita juga membuat produk untuk menjaga kesehatan tubuh, seperti kita membuat otomatic wastafel portabel, jadi wastafel cukup dengan menjulurkan tangan saja nanti sabun dan air nya keluar sendiri, ini adalah suatu bentuk motivasi kami dalam kepedulian terhadap COVID-19.”

PROF.DR.MUHAMMAD ALI RAMDHANI DIRJEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KEMENTRIAN AGAMA RI.
PROF.DR.MUHAMMAD ALI RAMDHANI DIRJEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KEMENTRIAN AGAMA RI.

Prof. DR. Muhammad Ali Ramdhani juga menuturkan kepada awak media, ” pesantren bisa menjadi sebuah lembaga pendidikan yang mampu mencetak insan-insan yang mumpuni yang memiliki keimanan yang kuat dan memiliki daya saing yang tangguh dikehidupan, untuk mensupport kegiatan pesantren, kita menyiapkan dana hampir 2,6 trilun dan itu wujudnya adalah bentuk bantuan langsung kepada pesantren dan kita mensupport dan memberikan apresiasi dalam acara ini.”

“Kami saat berharap kepada pemerintah baik ditingkat daerah, propinsi maupun pusat, tolong lirik pesantren, kami tidak meminta bantuan yang sifatnya konsumtif, tapi kami butuh spirit atau motifasi supaya teman-teman yang memiliki multi talenta ini bisa di fasilitasi untuk pelatihan, pendampingannya sampai dengan kemampuan menjual, karena salah satu keluhannya adalah kami bisa memproduksi tapi kami mengalami kesulitan sulit untuk penjualan.”Tutup K.H. Enha.

Sementara H. Kevin Haikal, Staf Khusus Menteri Agama menyanpaikan bahwa tidak dipungkiri kontribusi pesantren terhadap negara sangat besar.bahkan sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini.

“kontribusi pesantren sendiri, Keberpihakan, kehadiran, dan perhatian negara terhadap pesantren juga semakin hari semakin bertambah. Hal ini memuncak di era Presiden Joko Widodo, seiring ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional sejak tahun 2015 dan disahkannya UU No 18 tahun 2019 tentang Pesantren.

“ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pesantren. Peluang karena pendidikan pesantren kini sudah mendapat rekognisi dari negara, baik dalam bentuk pendidikan diniyah formal maupun penyetaraan (muadalah). Pendidikan diniyah formal juga sudah lengkap, dari jenjang ula (setingkat MI), wustha (setingkat MTs), ‘ulya (setingkat MA), bahkan hingga Ma’had Aly (PTKIN),”ucapnya.

Namun, lanjut Kevin pengakuan negara juga menjadi tantangan bagi pesantren. Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini harus bertransformasi sesuai perkembangan zaman.

Masyarakat pesantren harus mampu menjawab persoalan masyarakat global masa kini dan perkembangan teknologi informasi. Santri harus bisa ikut mengambil peran sebagai warga dunia. Karenanya, selain tafaqquh fid-din (penguasaan ilmu agama), santri juga harus punya keahlian kompetitif dalam menghadapi kehidupan dunia. Dengan begitu, santri bisa bersaing tidak kalah dengan lulusan pendidikan lainnya dan tidak dipandang sebelah mata.

“Saya mengapresiasi pendekatan metodologi pembelajaran Pesantren Motivasi Indonesia, Yayasan Istana Yatim Nurul Mukhlisin. Sebab, selain belajar ilmu agama, santri di pesantren ini juga dilatih keterampilan dan keahlian. Mulai dari barista coffee, hidroponik, ternak lele, bahasa Inggris, bahkan sampai membuka santri mart untuk pemberdayaan pesantren.”

“Ini cermin kemandirian. Sejak dulu, pesantren memang dikenal sebagai lembaga yang mandiri. Kemandirian menjadi nilai pesantren, selain keikhlasan, kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi,” kata H.Kevin Haikal.

Sri Sugiarti, Ketua Himpunan pengusaha Nadzinin kabupaten bekasi sangat mengapresiasi, bukan hanya HPN saja yang mengangkat kearifal lokal, dan pesantrean motivasi ini melakukan sesuatu yang luar biasa, yaitu memproduksi sendiri oleh santri sendiri. “ini sangat baik untuk nanti bisa mengeksplor lagi produk2 yang di produksi pondok pesantren,” tandas Sri Sugiarti.

Reporter: Haris

Redaksi
About Redaksi 880 Articles
Penggiat Sosial dan Kemanusiaan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*