Syaykh Al-Zaytun Urai Perjalanan Indonesia

Budayabangsabangsa.com – Indramayu. Minggu 25/06/2017.

Syaykh Al-Zaytun mengumandangkan takbir, Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Disusulkan dengan kalimat tauhid, Laa ilaha ilallah huwallahu akbar. Allahu akbar walillahilham, mengawali khutbahnya.

Syaykh menyampaikan salam, “selamat telah melaksanakan shaum Ramadhan satu bulan penuh”, ungkapnya.

“Seluruh civitas Ma’had Al-Zaytun mengucapkan Selamat Idul Fitri, semoga kita kedepan diberi kesehatan, kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas besar, menciptakan ketaatan dan kesejahteraan bagi umat,” Kata Syaykh mewakili civitas Ma’had Al-Zaytun dengan do’a dan harapanya.

Khutbah kali ini masih berkenaan dengan khutbah waktu yang lalu, masih tentang keindonesiaan. Indonesia adalah takdir bagi negara bangsa. Proses terjadinya suatu bangsa adalah suatu kehendak untuk menjadi besar.

Syaykh Al-Zaytun, dalam setiap khutbahnya adalah suatu kekhasan seorang patriot sejati. Tak pernah terlepas dari pembahasan perjalanan bangsa Indonesia.

Syaykh memaparkan perjalanan bangsa ini, “Pada periode pertama, suku bangsa sudah tinggal di Indonesian yang disebut Nusantara, kemudian menjadi Indonesia Raya. Memiliki geografi, demografi dan histori; itulah bangsa.” Papar Syaykh mengenangkan.

Lebih lanjut Syaykh menyampaikan, “Kemudian datang gelombang westernisasi dan modernisasi yang berwujud kolonialisasi atau imperialisasi. Awalnya adalah 1511 M. Portugis datang kemudian diikuti Spanyol yang datang ke Indonesia Timur. Disempurnakan imperialisasi dengan adanya VOC pada 1602 M. Dimulai eksploitasi dengan modernisasi ala militerisasi. Pada awal-awal abad ke-20 dengan dikuasainya Aceh, maka sempurnalah Merauke sampai Sabang dikuasai, akhirnya menjelma menjadi Hindia Belanda.” Papar Syaykh mengurai sejarah.

“Masuk pula investasi multinasional dari Eropa termasuk China dan Jepang. Prioritas adalah investasi di bidang transportasi, khususnya di Jawa.” Ungkap Syaykh mempertegas pemaparan dalam khutbahnya.

“Dengan masuknya pendidikan, maka timbullah rasa merdeka dalam ruh, pikir dan ilmu bahwa kita harus bersatu. Menerobos politik devide et impera. Berkumpullah pemuda-pemuda terdidik ala Barat yang modern, terdidik tapi bukan ala westernisasi. Terlaksanalah 28-10-28. Menyatu dalam persatuan, tanpa sekat suku dan agama. Sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

Bahasa Melayu pasar kemudian menjadi Melayu Hindia Belanda, lalu itulah bahasa Indonesia. Revolusi akal pikiran terus berjalan. Sementara SDA kita dikeruk untuk membangun Hindia Barat yang berpusat di New York. Kita tetap menjadi bangsa jajahan, bangsa kuli dan jongos.” Ungkap Syaykh menguraikan fakta sejarah

“Hingga saat ini, Belanda tidak mengakui kemerdekaan tahun 1945 tapi mengakui tahun 1949.” Ungkap Syaykh menegaskan

Lebih lanjut Syaykh mengatakan, “Karena hutang dalam negeri dan luar negeri Hindia Belanda, disepakati diwariskan kepada bangsa yang baru, maka kabinet silih berganti karena goncang”.

“Berlangsung Pemilu 1955 memilih wakil rakyat untuk membentuk UUD baru, untuk menggantikan UUDS 1950. Pada saat itu terbentuk multi partai tapi aman damai, tidak ada yang berteriak politik agama, dsb. Lalu Presiden Sukarno melakukan ekstra konstitusional, yaitu mengambil alih konstitusi dengan Dekrit 1959 untuk kembali ke UUD 1945 dan Pancasila sebagai falsafah negara.”Kembali Syaykh mempertegas sejarah Indonesia.

Ir. Sukarno jatuh pada 1966 karena dianggap keluar dari dua sebagai senjata , UUD 1945 dan Pancasila. Suharto melanjutkannya dengan serba Pancasila, ada P4 dan BP7. Di pelosok-pelosok tempat dijaga tentara, seperti zaman Belanda dulu. Indonesia tidak merdeka lagi, karena musyawarah tidak berjalan karena takut dengan senjata.”Ungkap Syaykh

Pada khutbahnya Syaykh melanjutkan, “Pada 22 Juni 1945, telah disiapkan naskah preambule yg menjadi Piagam Jakarta, menghapus 7 kata syariat Islam. Menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah multi kultural. Tapi saat ini, ada sekelompok yang ingin memaksakan harus dengan Fatwa Islam. Padahal di Piagam Jakarta sudah dihapuskan.” Tegasnya menjelaskan

Disampaikan juga pada kesempatan khutbahnya, bagaimana perjalanan koperasi menentukan perjalanan bangsa.

Menurut Syaykh, “Koperasi sudah menjadi kebiasaan bangsa, maka dapat mewujudkan food dan fuel, pangan dan energi. Hari ini Indonesia menjadi pengimpor pasif dan masif. Koperasi utk mandiri dalam food, finance dan fuel. Maritim harus kuat supaya tidak ada intervensi seperti tahun-tahun lampau.” Ungkapnya.

Menyanyikan Indonesia Raya 3 Z Image 2017-06-25 at 20.12.03
Klick Gambar diatas dan simak Videonya

Syaykh menghimbau, “Manfaatkan 5 sebelum 5. Manfaatkan muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kemampuan sebelum keterbatasan, masa lengang sebelum masa krisis, hidup (cita-cita, semangat) sebelum pupus.” Imbuhnya.

Menyanyikan Indonesia Raya 3 Z Image 2017-06-25 at 20.12.04
Klick Gambar dan simak Videonya

Pada pelaksanaan aid al-fitri mengajak seluruh jamaah menyanyikan Indonesia Raya sambil memandang bendera yang sudah berkibar, bukan bersama-sama dikibarkannya.

[RI]

Redaksi
About Redaksi 612 Articles
Penggiat Sosial dan Kemanusiaan

4 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*