Syaykh Al-Zaytun di Anugrahi Penghormatan, Yang Mulia Syayk Agung


Budayabangsabangsa.com – Indramayu, Selasa.

Pangeran Nata Adiguna Mas’ud Thoyib Jayakarta Adiningrat (Kedaton DKI Jakarta)

Saat diwawancarai oleh Tim Media saat selesai acara memaknai 1 Syuro 1440 H, di Ma’had Al-Zaytun Indramayu Indonesia.

Mengapa Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang diberi gelar Kehormatan YM Syaykh Agung ?

Berikut penjelasan Pangeran Nata Adiguna Mas’ud Thoyib Jayakarta Adiningrat.

Pertams karena AS. R. Panji Gumilang adalah seseorang yang punya ide dan pemikiran terutama di dalam Ma’had Al-Zaytun, dari tanah yang seribu duaratus hektar ini, dia punya gagasan dibuat satu masjid dan juga dibuat satu danau yang namanya Tirta Kencana dan dibuat juga satu taman yang namanya Puspa Kencana, saya tambahi dengan nama Puspa Dian Kencana dan Tirta Dian Kencana.

 

Nah dari desain yang ada setahun yang lalu saya diundang kesini waktu peletakan batu pertama, ternyata dalam satu tahun itu diwujudkan. Itu menurut saya suatu pemikiran yang luar biasa seorang pemimpin yang mampu mewujudkan mimpinya dan kami tahu cara ini sangat swadaya dan juga tidak membebani APBN sama sekali, dan saya lihat bahwa ide-ide tentang pendidikan juga sangat luar biasa. Memberdayakan anak didiknya menggeluti pertanian dan semua mahasiswa yang disini mulai dari MI hingga Perguruan Tinggi diberdayakan menuntut ilmu dan sekaligus juga mewujudkan dan bermanfaat juga.

 

Sehingga beliau adalah orang yang mampu menyesuaikan tentang Tuhan yang menciptakan alam ini, dan juga tentang manusia, alam dan sekitarnya ketiga-tiganya suatu kesatuan yang menurut saya yang sangat harmoni di dalam Ma’had Al-Zaytun.

 

Apalagi bahwa dari tanah yang ada ternyata tidak sekedar swadaya di bidang pangan, ya misalnya tentang ternaknya dan perkebunan bahkan surplus sampai sekarang pun jalan.

 

Ini adalah suatu pemikiran yang utuh menurut saya dan dia juga menata kawasan ini. Menurut saya juga sangat bagus, jadi saya melihat selama ini banyak masjid tapi tidak bisa dipandang dengan indah, karena masjid itu dibuat dengan tanah yang terbatas, tetapi ini antara masjid, tanah, taman, juga bangunan yang lain diletakkan secara serasi dan dibangun secara bertahap dari tahun ke tahun.

 

Dan setiap ulang tahunnya saya memandang sebagai evaluasi dari tahun sebelumnya saya menyaksikan sendiri bahwa nyatanya mampu, dia mewujudkan pemikirannya yang tadinya ide tapi kemudian menjadi wujud yang nyata.

 

Di sinilah kami menganggap beliau layak mendapat suatu penghargaan, dari kita menganggap kalau beliau itu Syaykh, dan Syaykh itu adalah pemimpin wilayah Al-Zaytun.

Yang Mulia Syaykh Agung. Prof. DR (HC) Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang
Yang Mulia Syaykh Agung. Prof. DR (HC) Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang

Menurut saya Syaykh itu yang paham, Syaykh yang Agung yang mampu mewujudkan mimpinya jadi kenyataan dan dengan sederhana beliau juga tidak ingin disebut yang lain, tidak mau disebut Imam Besar juga tidak, tetapi cukup hanya dengan Syaykh.

 

Syaykh itu artinya Pimpinan kawasan itu sendiri, saya hanya menambahkan Agung, Jadi Syaykh Agung itu yang saya beri.

 

Jadi Syaykh itu artinya suatu pemimpin dari satu wilayah, atau di sini disebut Mahad Al-Zaytun, Tetapi dia tidak sekedar mengolah tanah yang seribu, dua ribu meter tapi ini 12 hektar bisa dibayangkan cukup besar tadi saya sebutkan 1.200 hektar mohon maaf, jadi kalau saya bandingkan dengan Negara Malta, dengan Singapura, dengan Brunei, dengan Vatikan yang hanya 44 hektar, ya bisa jadi kawasan yang demikian.

 

Nah ini beliau mampu, itu ada saingannya dan dia punya pemikiran tentang pendidikan itu menurut saya itu sangat luar biasa, mandiri dan tidak (bukan) sekolah umum tapi dari Sekolah Madrasah mulai dari Ibtidaiyah sampai Perguruan Tinggi, tetapi yang dibuat itu tidak sekedar pelajaran umum, di sini difokuskan pada pertanian dan peternakan.

 

ini saya rasa satu-satunya di Indonesia dan terbukti mereka yang sudah lulus dari sini bisa hidup di mana saja sehingga siap menjadi Darjana-sarjana yang mampu mandiri.

(Edy Mansyur)

Redaksi
About Redaksi 612 Articles
Penggiat Sosial dan Kemanusiaan

1 Comment

  1. Pandangan Syayikh Agung Al-Zaytun tentang Indonesia selayaknya diapresiasi oleh bangsa Indonesia yang sedang berada dalam ‘keterpurukan multi dimensi’.

    Bagaimana pandangan YM Syayikh Agung Al-Zaytun tentang Indonesia? Kita bisa memulakannya dengan melihat motto Al-Zaytun yang memyatakan ‘dirinya’ sebagai Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Dan itu diperkuat lagi dengan motto IAI Al-Azis sebagai institusi Pendidikan Tinggi di Al-Zaytun; Ajaran Ilahi Untuk Semua.

    Dua konsep dan pandangan hidup civitas Ma’had Al-Zaytun di atas bukan hanya sebagai lip service semata, tapi bisa ditemukan bukti empirisnya secara langsung.

    Mengenal beliau sangat mudah, cukup hanya dengan melihat karyanya yang terpahat rapi di kawasan Sandrem, Inderamayu. Itulah out put pemikiran YM. Syayikh Agung, ASPG.

    Maka bagi banyak orang adalah hal yang wajar bila ahli-ahli pidato akan kelu lidahnya saat akan berbicara di depan beliau dan karyanya. Apa yang akan dipidatokan? Apa lagi yang akan di ajarkan?

    Sepantas-pantasnya ucapan saat berada di Ma’had Al-Zaytun adala; Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang dzolim.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*