Polres Kotim Libatkan Tokoh Agama Tangkal Radikalisme

Budayabangsabangsa.com, Palangka Raya–Kepolisian Resor Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah (Polres Kotim) menggelar sejumlah kegiatan terkait kontra radikalisme ke berbagai tempat di wilayah Kotim.

Selain mengadakan Forum Diskusi Terpumpun (FGD), Polres Kotim bersama Tim Divisi Humas Polri juga mengunjungi Masjid Adz Dzikr yang terletak di Mentawa Baru, Ketapang, Jumat (6/12).

Forum diskusi yang digelar di Aula Polres Kotim, mengundang sejumlah perwakilan lintas agama di Kotim yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) Kotawaringin Timur.

Dewi Dowes Ahad misalnya, Wakil Ketua Majlis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Kotim (foto:Sutarno/Berantas)
Dewi Dowes Ahad misalnya, Wakil Ketua Majlis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Kotim (foto:Sutarno/Berantas)

Tokoh agama yang hadir diantaranya dari perwakilan Islam, Hindu Kaharingan, Hindu Bali, Kong Hu Cu, Budha, Kristen dan Katolik.

Forum diskusi membahas isu radikalisme yang tengah marak belakangan ini di sejumlah daerah di Indonesia termasuk di Kotawaringin Timur  Kalteng.

Dewi Dowes Ahad misalnya, Wakil Ketua Majlis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Kotim di hadapan awak media mengatakan, selain sentimen keagamaan, masalah ekonomi juga berperan besar menimbulkan radikalisme di masyarakat.

“Kalau kita sudah cukup ekonomi, pemerintah daerah bisa mengadakan lapangan kerja tidak mungkin akan tergiur ke radikalisme,”ucapnya.

Dia mengharapkan pemerintah daerah bisa menciptakan lapangan kerja untuk menggiatkan perekonomian di daerahnya.

Soal kerukunan agama, kata Dewi tidak menjadi soal karena mereka yang berbeda agama bisa hidup berdampingan bergotong royong satu sama lain khususnya di Kota Besi Kotim.

“Kalau di sana (Kota Besi) sangat rukun kalau kehidupan beragama sangat rukun saling menghargai, di keluarga kami ada berbagai agama, kristen, Hindu, silakan menjalankan agama masing-masing,”imbuhnya.

Senada dengan itu Syadilah S.Pd mengatakan radikalisme tidak hanya karena fanatisme agama tetapi ketidakadilan dan kesenjangan sosial.

“Salah satu pemicu (Radikalisasi) adalah ekonomi, saya melihat secara keseluruhan bukan hanya di Kotim, itu bisa saja terjadi,”ucapnya.

Apabila pemicu-pemicunya,lanjut Syadilah tidak dihilangkan maka kemungkinan bisa terjadi konflik dan radikalisme.

“Edukasi sudah dilakukan dimana-mana tapi bila kebijakan tidak berubah menurut pemahaman saya bisa memicu. Konflik yang pernah terjadi karena ketidakadilan dan kesenjangan sosial, Jangan lengah di Kotim meski terlihat damai dan kondusif,”pungkasnya.

Ustaz Dahlawi S.Ag, penceramah yang tinggal di Mentawa Baru Ketapang mengatakan, peran serta tokoh masyarakat sangat penting.

“yang pertama tidak bisa lepas dari peran tokoh masyarakat tanpa harus menunggu pemerintah. Mengawal radikalisme adalah tugas kita semua, tidak cukup hanya tugas ustaz dan dai,”katanya.

(ht)

Redaksi
About Redaksi 800 Articles
Penggiat Sosial dan Kemanusiaan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*