Perilaku Yang Tak Seharusnya Ada

Kendaraan yang diparkir dedepan rumah warga tanpa izin selama bertahun tahun

Budayabangsabangsa.com – Jakarta Ahad, (08/10/2017)

Merasa menjadi warga pribumi asli bukan jaminan untuk memperlakukan warga yang dianggap pendatang sebagai objek yang bisa diperlakukan semau Anda. Kejadian ini dialami oleh warga yang beralamat di RT.002 RW.001 Kel. Kali Baru Kec. Cilncing Jakarta Utara

Sudah tahu sejak awal jika rumah yang Anda tempati terpencil didalam gang tapi masih berambisi untuk membeli kendaraan roda empat. Alhasil kendaraan diparkir di depan rumah warga lain, mungkin jika satu atau dua jam pemilik rumah tidak ambil pusing, apalagi sudah izin.

Kejadian ini sudah berlangsung selama bertahun tahun bahkan tidak pernah izin sekalipun, wajar saja jika yang punya rumah mendatangi Anda dan memberitahukan agar mobil milik Anda tidak di parkir ditempat itu lagi, dengan maksud agar tiap memerlukan akses jalan tidak harus selalu memberitahu dan menunggu Anda untuk memindahkan kendaraannya, bukannya mendapatkan tanggapan yang menyenangkan justru malah pemilik rumah mendapatkan bahasa yang tidak menyenangkan bahkan menantang untuk bertengkar.

Pemilik rumah mana yang mau dijadikan didepan rumahnya sebagai penitipan mobil yang selalu menghalanginya untuk menyapu bersih bersihkan sampah yang berserakan, apalagi tidak pernah izin.

Harapan pemilik rumah agar bisa diselesaikan secara kekeluargaan ternyata diluar dugaan mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, akhirnya terpaksa dibuatkan tanda bahwa didepan rumah tidak diperkenankan untuk parkir kendaraan, tapi ternyata tidak dihiraukan juga.

Ketua Rukun Tetangga, hanya bisa melihat tapi tidak ada tindakan untuk melayani warganya yang dizalimi.

Perilaku Yang Tak Seharusnya Ada Image 2017-10-08 at 11.20.32
B 9493 UUA

Keberadaan Mobil tersebut hanya menjadi tempat sampah dibawah nya yang sulit di jangkau untuk membersihkan nya, kalaupun mobil tersebut keluar sekali waktu barulah kelihatan sapah-sampah yang sudah lama membusuk dari bawah mobil tersebut, itupun ditinggal begitu saja tanpa mau membersihkan nya. Terpaksa pemilik rumah juga yang harus repot membersihkan nya.

Bertetangga seharusnya dilandasi sikap rukun itulah gunanya Rukun Tetangga (RT). Namun menempati wilayah yang padat, apalagi di plosok perkotaan, sering kali hidup indifidual tidak dilandasi hidup rukun. Sikap iri, dengki, dan semau gue, merendahkan orang lain acapkali menyebabkan timbulnya pertengkaran.”

Masalah dalam bertetangga dapat terjadi dalam banyak hal. Bisa disebabkan karena perbuatan orang, bisa juga pelanggaran terjadi karena kendaraan atau hewan. Masalah bisa bermula dari “Memarkir mobil sembarangan, membunyikan musik sekencang-kencangnya, menjemur pakaian sembarangan, memelihara binatang buas, pembangunan gedung tinggi hingga menghalangi pemandangan tetangga atau merusak bangunan tetangga, dan memasuki pekarangan milik tetangga tanpa izin, itu bisa termasuk pelanggaran.”

Kejadian tersebut tidak melanggar jika ada izin dan semua prosedur sudah dipenuhi. “tetapi, seketika berubah menjadi pelanggaran apabila menyebabkan kerugian bagi orang lain. Atau yang dilakukan seseorang adalah perbuatan melawan hukum. Meskipun di lingkungan rumah sendiri, seseorang tak bisa berbuat seenaknya tanpa memperhatikan hak dan kepentingan orang lain.”

Bertentangan dengan Hukum.

Perbuatan apa saja yang berpotensi menjadi perbuatan melanggar (melawan) hukum? “Mulai dari yang dilakukan bertentangan dengan kewajiban hukum, bertentangan dengan hak subjektif orang lain, bertentangan dengan kesusilaan, serta bertentangan dengan kepatutan, ketelitian, dan kehati-hatian.”

Memang, banyak orang menganggap bahwa gangguan bertetangga di perumahan sebagai hal sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan karena hanya menyangkut etika. “Sekali dua kali pelanggaran, sih, mungkin orang akan toleran. Tapi kalau sudah berkali-kali bahkan bertahun tahun dan ada kondisi yang memantik, kesabaran orang mungkin akan hilang.

Ditinjau dari Penggunaan Jalan

Ketentuan mengenai jalan, pertama tama bisa dilihat dari pasal 671 KUH Perdata:

“Jalan setapak, lorong atau jalan besar milik bersama dan beberapa tetangga, yang digunakan untuk jalan keluar bersama, tidak boleh dipindahkan, dirusak atau dipakai untuk keperluan lain dari tujuan yang telah ditetapkan, kecuali dengan izin semua yang berkepentingan.”

Oleh karena itu, sudah menjadi hak Anda untuk mempergunakan jalan di depan rumah Anda dan apabila tetangga Anda ingin mempergunakan jalan tersebut untuk memarkir mobil-mobilnya yang memungkinkan membuat tetangga di sekitarnya tidak nyaman, seharusnya tetangga Anda meminta izin tetangga di sekitarnya.

Atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh perbuatan tetangga Anda, apabila cara kekeluargaan tidak berhasil, Anda dapat menggugat tetangga Anda secara perdata untuk meminta ganti kerugian atas dasar perbuatan melawan hukum, sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPer, yang berbunyi:

“Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.”

Dalam hal ini, tetangga Anda melanggar hak subjektif Anda sebagai pemilik rumah untuk dapat keluar dengan rumah dengan nyaman dan kapanpun Anda inginkan tanpa ada gangguan. Selain itu, tetangga Anda juga melanggar azas-azas kepatutan yang terdapat di masyarakat. Karena pada dasarnya dalam kehidupan bertetangga sudah menjadi hal yang lazim bahwa tidak boleh melakukan suatu perbuatan yang dapat merugikan tetangganya. Dalam hal ini, Anda merasa dirugikan dari segi waktu Anda yang terbuang karena harus menunggu tetangga Anda memindahkan mobil.

Mohon Aparat yang berwenang Menertibkan ini.

[Redaksi]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*