Peranan Mahasiswa Sebagai Penyuluh Ummat Ditengah Masyarakat

Jakarta. MB3, 24 Mei 2015.

Dalam acara peringatan Isra’ Wal Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK Cilincing 3 Jakarta Utara), di peringati dengan menghadirkan  dua orang mahasiswa pendidikan Agama Islam dari STAI PTDII untuk bersama sama melakukan suatu terobosan yang dipimpin oleh Pembina ROHIS (Muhammad Yusuf A) seorang mahasiswa dari UHAMKA  yang memiliki tujuan mulia dalam rangka memproteksi perilaku Siswa(i) yang terhitung masih Muda-belia dari pengaruh Budaya-Budaya Negatif, Siswa(i) yang menjadi peserta pada acara ini tergabung dalam OSIS dan ROHIS SMK Cilincing 3 Jakarta Utara,

Walau sangat sederhana tetapi memiliki potensi yang tidak bisa dianggap sederhana, hari ini masih sederhana karena didukung oleh SDM yang terbatas dan menurut Ketua Panitia pendanaan yang sangat minim yang diperoleh dari infaq dan sodaqoh hari Jum’at serta iuran dari siswa-siswi yang disishkan dari uang saku mereka yang didapatkan dari orang tua nya, dalam Acara tersebut di isi dengan Kajian Ilmiah bertemakan “Thaharah”, (Kebersihan atau Kesucian).

Pada kesempatan itu, turut juga dihadiri oleh Duri, S.Pd.I, Ketua Dewan Pembina MABI Foundation dan Ilyas, S.Pd.I, Ketua Umum MABI Foundation sebagai tamu Undangan.

Naarasumber pada acara isra’ mi’raj kali ini adalah dua orang mahasiswa, Abdul Basith Alhakiki, kelahiran 18 Sep 1992  asal Koja, Tugu Utara, Jakarta Utara ini adalah sosok mahasiswa yang mengecap pendidikan Agama Islam di STAI PTDII, di Jakarta, dengan semangatnya yang bergelora dan disertai suara yang khas, berupaya menyampaikan keilmuan yang pernah dipelajarinya dihadapan audiensnya, Ustd Abdul Basith, begitulah sapaannya pernah merasakan kerasnya bangku sekolah di MI Al-Khariyah Jakarta, dan MTs Nurussalam Ciamis serta SMA Nurussalam Ciamis. Remaja ini saat berita ini dimuat masih berstatus mahasiswa semester VIII, punya Motto hidup "Bahagia dunia dan akhirat"

Ustd Abdul Basith tidak sendirian terlibat dalam kegiatan sosialnya, Ia bersama sahabatnya dari kampus yang sama dengannya  “Ustd Ulul Azmi”, namanya, Sahabat Penyuluh (pen) ini punya ciri khas dalam menyampaikan makalahnya, sangat santai dan diselingi humor sesekali walau terkadang datar, tapi itulah Ulul Azmi punya ciri tersendiri untuk mengakrabkan dirinya dengan audiensnya, sahabat yang satu ini adalah kelahiran Cirebon, 20 November 1991 saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Semester VI Jurusan Ekonomi, meskipun jurusannya adalah ekonomi tetapi tidak mengurangi tingkat penguasaannya terhadap Ilmu agama Islam dan Ustd Ulul Azmi ini berdomisili di Sungai Bambu, Tg. Priok, Jakarta Utara, sahabat Ustd Abdul Basith ini pernah mengecap pendidikan di PKHU (Pendidikan Khodimul Ulama) Pondok KHAS (KH. Aqil Siroj) Kempek, Cirebon, dan MTsN Losari, Cirebon begitupun Pendidikan Dasarnya  di tempuhnya di SDN Kalisari, Losari, Cirebon. Motto hidupnya "Innalillahi Wainnaa ilaihi rojiun"

Terlepas dari konteks pelaksanaan acara Isra’ mi’raj tersebut, Ilyas, selaku ketua umum Yayasan Mufakat Al-Banna Indonesia mengatakan bahwa  “kondisi sebagian masyarakat Indonesia sekarang sedang membutuhkan sosok panutan yang familiar yang dapat memberikan inspirasi, menunjukkan jalan keluar dari permasalahan umat. kondisi umat  di Indonesia ibarat buih dipantai. Mereka banyak namun tidak berarti apa-apa, mereka terombang-ambing dan mudah di pecah belah kerena lupa akan keinginan Tuhan  terhadap penciptaan diri mereka,  mereka hidup didunia ini tak punya pegangan”.maka kita membutuhkan gerakan -gerakan dalam menyampaikan da’ wah atau penyuluhan rohani untuk Ummat Islam di Indonesia, kalau menurut sejarah singkatnya penyebaran islam dibawa oleh dai yang berdagang sejak zaman VOC  "Vereenigde Oostindische Coompagnie" (Pengusaha Portugis) datang ke Indonesia. Para penyuluh (Da’i Islam) tidak mengenal lelah walaupun ditengah persaingan tiga misi yang diprakarsai oleh Belanda. Mereka mampu membuat Penduduk Indonesia sekarang setidaknya 80% muslim dengan berbagai latar belakang pemahaman”. Demikian pula harapan Ilyas bahwa "Mahasiswa harus mampu menetralisir pemahaman masyarakat yang kontradiksi terhadap agama yang mereka anut dan tidak dibatasi dengan agama apa dan siapa penganutnya.

Bagi mahasiswa Islam yang khusus menguasai Ilmu Agama Islam diharapkan mampu berperan membawa perubahan keIslaman pada masyarakat yang Islamnya kontradiksi. Mahasiswa harus mampu mengajak satu, dua, tiga orang untuk mengkaji guna memahami hakikat Islam itu sendiri. Jika diawali dari satu dua orang saja yang di ajak untuk berubah menjadi muslim yang kaffah dan hanif maka beban negara akan berkurang, karena Islam yang sesungguhnya adalah Rahmatan lil’alamin dan agama sejak dari asalnya adalah sama menyembah tuhan yang sama yakni Allah, hanya cara pelaksanaan dan memahaminya saja yang berbeda-beda, semuanya memiliki pesan cinta perdamaian".ungkap Ilyas

Menurut Duri, Ketua dewan Pembina MABI Foundation "Mahasiswa Indonesia adalah bagian penting dari masyarakat yang sebagian masih memiliki tingkat kepedulin sosial yang tinggi. Ratusan universitas/institute di Indonesia menampung berjuta mahasiswa. Dalam lingkup masyarakat, mahasiswa dinilai sebagai kaum intelektual sehingga mereka dihormati. Mahasiswa sesungguhnya mampu memberikan warna bagi bangsa Indonesia melalui ilmu, pemikiran, dan semangat muda yang sudah tertanam dalam jiwanya".

Selanjutnya Bapak Duri mengatakan , “Saat ini kondisi masyarakat Indonesia ternyata jauh dari nilai-nilai Agama. Khusunya Iman, Aqidah dan Akhlak masyarakat Islam di Indonesia sudah tidak sesuai dengan ketentuan Islam. Mahasiswa harus mampu mengarahkan dan membawa masyarakat yang notabene Islam ,ber-agama Islam untuk lebih mengenal tatanan Islam. Mahasiswa Islam wajib memiliki pengetahuan Islam lebih mendalam, karena mahasiswa adalah sosok generasi muda yang memiliki potensi dan peluang besar ditengah masyarakat untuk merubah perilaku bangsanya yang sudah jauh terjerumus kedalam kegelapan”.beliau juga berpendapat bahwa “Mahasiswa disukai, didengar dihormati, oleh masyarakat. Mahasiswa berpengaruh besar untuk dapat mengajak masyarakat mempelajari ilmu agama Islam secara mendalam.

Banyak cara Mahasiswa dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, seperti aktif di-Masjid, di sekolah-sekolah untuk mengsosialisasikan ilmu Islam mereka ditengah masyarakat, sebagai bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat”. Mahasiswa sebagai penyuluh ditengah masyarakat adalah sebagian dari solusi problematika umat atau masyarakat. Masalah masyarakat yang terbesar adalah akhlak atau moral dan Aqidah atau mentalitas masyarakat yang memprihatinkan. Inilah kekurangan kita dan yang menjadi momok dalam kehidupan kita, sumber daya manusia serta sumber daya alam melimpah. Negara ini akan menjadi super power jika masalah sumber daya manusia sudah selesai. Musuh terbesar pada manusia Indonesia adalah dirinya sendiri”. Duri berharap “Mahasiswa memiliki kesatuan yang solid dalam melakukan penyuluhan rohani. Mereka sangat dibutuhkan negara. Mereka adalah problem solver bagi negara. Mereka tidak perlu terlihat dan turun langsung ke jalan memimpin demonstrasi/aksi guna memperbaiki keadaan negara ini. Sentuhan serta pemaparan argumentasi mereka sangat ditunggu masyarakat. Masyarakat sedang menunggu karakter mahasiswa seperti ini. ungkapnya.(yuli.A)

 

 

 

 

 

 

 
 
About admin 270 Articles
Seorang Admin Yang Hobi dengan Berita dan Web Programming

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*