Kehidupan Generasi KRUI Kelahiran Tahun 1950 Sd 1970-an

M. Taib

Budaya bangsa bangsa.com – KRUI Jum’at 04/08/2017

Kehidupan Generasi Kelahiran Tahun 1950 Sd 1970-an Khusus Masyarakat Kecamtan Pss Selatan. Biha Krui.

Kita generasi yang cukup beruntung karena dalam perjalanan kehidupan masa itu, generasi kita banyak sekali mengalami segala macam peristiwa, baik yang manis ataupun pahit dalam kehidupan kita sehari hari dan yang paling sering kita alami adalah pahitnya kehidupan seperti paceklik berkepanjangan.

Kitalah generasi yang pernah menikmati jalan kaki tanpa sandal dan sepatu berkilo-kilo meter menyebrang sungai dan laut, naik turun gunung untuk bersekolah dan berkunjung ke sanak saudara tanpa perlu berpikir akan ada bahaya yang membayangi kita.

Dan generasi kitalah yang masih merasakan bila makan masih menggunakan sayur batang dan daun talas, kabing rotan serta batang pisang muda(saruk)dan makan kerak(langkut)dengan kuah sayur tangkil dan ikan panggang serta ngerung dengan garam gigit cabe. Dan dicapur micin (Penyedap rasa-red) bahkan pernah makan handawik diolah menjadi pengganti nasi serta uyek yang begitu nikmatnya.

Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena kita bermain lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, atatunan, bedil-bedilan, main kelereng, gerobak-gerobakanan dari pelepah dan batok kelapa. sumpit2an, galasing serta mandi di kali bersama sama adalah permainan yangg tiap hari akrab dengan kita.

Generasi kitalah yang setiap akan memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonedia 17 Agustus 1945, mengadakan pertandingan sepak Bola, bola kasti antar sekolah SD se-Kecamatan Pss. Selatan Biha.

Generasi kitalah satu hari menjelang peringatah HUT 17 Agustus 1945,malam harinya kita melakukan pawai obor dari bambu disi minyak dengan sumbu kain bekas, berangkat dari depan sekolah berkeliling pekon (Kampung) hingga selesai jam 09:00 malam.
Pagi pagi harinya kita berangkat dari depan sekolah berbaris dua dua dari klas 1 s/d klas 6 berjalan kaki tanpa sendal dan sepatu sepanjang 6 KM ke Ibu Kota Kecamatan Pss. Selatan Biha.

M. Taib & Istri
M. Taib & Istri

Kitalah generasi setelah tamat sekolah Dasar (SD) 6 Tahun tiap kelulusan hanya 1 atau 2 maksimal 3 orang yang bisa melanjutkan pendidikan tingkat pertama (SMP) di Pasar Krui, karena hanya satu satunya sekolah SMP waktu itu. Disamping jarak tempuh yang jauh dan kemampuan orang tuapun sangat terbatas.

Pada saat saya mau berangkat melanjutkan pendidikan SMP Negri di pasar Krui Tahun 1973 saya diantar oleh orang tua pakai gerobak ditarik sapi.
Namun sebelum berangkat sudah menjadi tradisi kita, malam harinya melakukan do’a bersama (bedua) bersama minak muari (masyarakat dan saudara-saudara) di sekitarnya.
Saya berangkat dengan membawa:
1. Jerawan (Kayu Bakar)
2. Rayoh (Panci)
3. Sulan (Tikar)
4. Cabe 1 timpung yang sudah di giling.
5. Bawa beras 1 kaleng kerupuk.
5. Ikan Asin tamban jangguk dan jelit mata setengah karung gandum,
Itulah sayur kami tiap hari selama 6 bulan pertama sekolah.

Moga ceritaku ini menjadi renungan bagi kita, supaya kita tidak melupakan sejarah kehidupan masa lalu kita, sehingga tidak menjadikan kita sombong dan pongah. kepada siapun pungkas. M .Thaib.

Penulis M. Thaib

[A. Samsuri]

Redaksi
About Redaksi 570 Articles
Penggiat Sosial dan Kemanusiaan

2 Comments

  1. Luar biasa,,,! Belum lagi main taji, biji duren ditancapkan besi/jari2 sepeda yg sdh dibentuk sedemikian rupa,buku bacaan yg dipakai turun temurun..

  2. Untuk jenis permainannya saya juga mengalami masa itu, tapi saya jauh dari laut. Hutannya masih sempat saya menemukan di kawasan Gedung Aji, Tulang Bawang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*