Rahmatan Pandu Kemanusiaan (RPK) Kunjungi ‘Kampung Lapak’ Bekasi Barat

budayabangsabangsa.com, Bekasi–

Gersang,  berdebu dan dipenuhi lapak-lapak kumuh di sana sini. Lalu lalang orang membawa motor dengan gerobak terkait di belakangnya. Gerobak yang membawa sampah daur ulang. Sementara itu,  di pinggir jalan nampak ibu-ibu tengah asyik duduk menunggu di luar musolah. Begitulah pemandangan sore hari di ‘Kampung Lapak’ warga biasa menyebutnya, sebuah kawasan pemukiman yang dominan dihuni para pemulung terletak di Keluharan Bintara Jaya 8 RT 3 RW 9 Bekasi Barat, Jawa Barat.

Di lokasi inilah sehari-hari Bu Yuni (27) dan sekitar 275 Kepala Keluarga tinggal dan menggantungkan hidupnya sebagai seorang pemulung. Perempuan asal Karawang bersama suaminya mengumpulkan barang-barang bekas daur ulang seperti botol, besi, kertas, kardus dan plastik serta bahan-bahan lainnya. Barang-barang tersebut dikumpulkan di lapak pengepul tidak jauh dari lokasi.

Penghasilan yang diperoleh Bu Yuni bersama suaminya dari memulung berkisar 100 ribu perminggu. Penghasilan yang terbilang sangat kecil untuk menghidupi dua anaknya.

“Ya dicukup-cukupi mas, apalagi sekarang, barang-barang serba mahal,” ucap Bu Yuni.

Belum lagi untuk membiayai sekolah anak- anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sekolahnya sendiri memang gratis namun buku dan alat tulis serta seragam sekolah semuanya harus beli. Karena itu, dia berharap ada uluran tangan dari pemerintah atau swasta berupa buku dan alat tulis serta seragam kepada kepada anak-anak di sini.

Tatapan nanar Bu Yuni berusaha tampak tegar
Tatapan nanar Bu Yuni berusaha tampak tegar

Sama halnya dengan Bu Yuni, Bu Iis (28), perempuan asal Serang Banten yang juga tinggal di lokasi yang sama hanya bisa berharap ada bantuan dari pemerintah maupun swasta. Hidup di atas lahan milik perusahaan swasta tanpa jaminan keamanan dan kenyamanan, selama 15 tahun bukanlah pilihan ideal bagi Bu Yuni dan 275 KK di sini. Mereka sudah bosan menjadi warga kelas dua di republik ini yang hanya didekati saat menjelang pemilu saja.  “Kami hanya ingin diakui oleh ketua RT di atas (RT 3/8) tidak lebih,” ucap Sularto salah satu warga di sana.

Dimas dkk dari RPK tengah menghibur anak-anak di Musolah At Taubah Bintara Jaya, Sabtu (18/5)
Dimas dkk dari RPK tengah menghibur anak-anak di Musolah At Taubah Bintara Jaya, Sabtu (18/5)

IMG_20190518_165940498

Kunjungan Rahmatan Pandu Kemanusiaan (RPK)

Di Bulan Puasa ini, sudah ada beberapa kunjungan yayasan sosial ke lokasi tersebut salah satunya dari Rahmatan Pandu Kemanusiaan (RPK) pada Sabtu Sore 18 Mei 2019.

Kehadiran mereka disambut antusias warga yang terdiri dari anak-anak dan ibu-ibu. Lebih dari 100 orang anak-anak usia sekolah hadir memadati ruangan Musolah At Taubah. Rombongan yang dipimpin oleh Dimas menggelar sejumlah kegiatan bakti sosial berupa santunan sekaligus pemberian takjil.

“Kegiatan ini membantu saya menarik minat minat anak-anak untuk datang ke musolah,” ucap Sularto ketua DKM setempat. Dia berharap kegiatan ini berlanjut tidak sekedar bantuan berupa barang tetapi juga ada bimbingan dan pengajaran mengaji bagi anak-anak.

“Di sini hanya ada satu guru ngaji itu juga saya,” ucap Sularto.

Kedatangan RPK ke Kampung Lapak sedikit memberikan asa bagi warga sekitar khususnya anak-anak usia sekolah yang tidak hanya membutuhkan makanan bagi fisiknya tetapi juga ‘makanan’ bagi jiwa atau ruhaninya berupa pengajaran dan pendidikan.

RPK merupakan Lembaga Kemanusiaan dibawah naungan Yayasan Rahmatan Lil Alamin Jakarta Timur yang dibentuk sejak Januari 2019. Berbagai kegiatan kemanusiaan telah dilakukan salah satunya bantuan kepada korban Tsunami Banten pada awal Maret 2019 lalu. (ht)

Redaksi
About Redaksi 706 Articles
Penggiat Sosial dan Kemanusiaan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*