FKK : Kekerasan Terhadap Wartawan Saat Menjalankan Tugas Jurnalistik

FKK : Kekerasan Terhadap Wartawan Saat Menjalankan Tugas Jurnalistik

Budayabangsabangsa.com – Kemenkopolhukam bekerjasama dengan Jajaran TNI AU mengadakan forum koordinasi dan konsultasi Kemenko Polhukan (FKK) dengan tema “kekerasan terhadap wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik” dengan mengundang ketua Dewan Pers dan Ketua PWI pada senin 10 April 2017 bertempat digedung Hercules ,Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Acara ini mengundang Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, Ketua PWI, Kemenkominfo (perwakilannya), Dinas Pemerintah dan BUMN. Acara yang dibuka oleh Menteri (purn) Jenderal Wiranto menegaskan pentingnya kehidupan demokrasi sebagai subtansi penting sebuah bangsa. Indonesia menempati indeks prestasi 78,2 pada standar internasional prestasi suatu Negara. Nilai 80 adalah nilai sedang. Demokrasi dinegara Indonesia mulai berjalan tahun 1998 termasuk kebebasan pers, Namun Ekspresi kebebasan terjadi face to face antara wartawan dengan oknum aparat yang tidak terkontrol. Oknum yang terancam dengan prilaku wartawan dapat menimbulkan reaksi kekerasan.

wiranto5

Aksi – aksi kekerasan pada wartawan membuat Yosep Adi Prasetyo gencar melaksanakan seminar dan forum Koordinasi, selain membahas tentang penanggulangan kekerasan pada wartawan, Yosep Adi Prasetyo ketua Dewan Pers yang akrab dipanggil Stanley ini juga mengangkat masalah tentang profesionalisme wartawan . Yosep menyarankan media sebaiknya memenuhi standar pers serta mengikuti uji kopetensi sebagai bagian dari upaya meningkatkan Profesionalisme. Media yang sudah terverifikasi baik peerusahaan pers , media massa maupun elektronik selain dapat menjamin profesinalisme juga dapat dijadikan perlindungan dari jenis media dan wartawan media abal abal .

wiranto6

Kekerasa pada wartawan belakangan ini marak terjadi di berbagai daerah. Amran Simanjuntak dan Andi Harahap adalah catatan korban terakhir wartawan Indonesia yang mengalami kekerasan, bahkan Amran Simanjuntak berakhir dengan kematian. Yosep Adi “Stanley” menghimbau kepada wartawan yang mengalami kasus kekerasan tidak menempuh jalan damai untuk mengungkap kasus hukumnya. Wartawan harus mengadukan hal tersebut kepada aparat kepolisian dan tentunya juga harus melapor kepada pimpinan medianya. Dewan Pers akan mengutus ahli pers dan mendampingi aparat kepolisian, pekerjaan wartawan tidak dapat dihalagi maka akan mendapatkan pidana kurungan 2 (dua) tahun dan denda sebesar 500.000.000 (limaratus Juta) tetapi itupun tidak terbebas dari penggantian alat kerja wartawan yang sudah mengalami kerusakan karena dokumentasi merupakan bagian terpenting dalam kerja wartawan begitu juga dengan alat kerjanya.

wiranto3

Yosep Adi Prasetyo mengatakan media harus dapat mengembalikan kepercayaan atas maraknya berita hoax atau informasi bohong yang dibuat seolah sebagai karya jurnalistik. Berita hoax banyak mengandung ujaran kebencian, Sebelumnya Wiranto dalam sambutannya mengatakan bahwa perlu adanya konsolidasi antara aparat, birokrat dan wartawan. Kebebasan berkumpul dan berpendapat dalam Undang _undang Dasar 1945 dibarengi dengan Undang- Undang Pers no.40 tahun 1999 jelas bahwa pemerintah tidak bisa memberedel dan menghentikan aktifitas kerja
wartawan tetapi didalam pembelaan Negara semua punya kewajiban yang sama terutama memahami hak dan kewajiban. Pemberitaan hoax adalah menggunakan haknya untuk memanipulasi pemberitaan dan mengakibatkan orang marah serta dapat menimbulkan konflik horizontal.

wiranto7

Diskusi Marsekal pertama Jemi tentang peliputan awak media di tempat jatuhnya pesawat juga menjadi salah satu topik bahasan yang tidak kalah menariknya. Bahwa larangan peliputan ditempat jatuhnya pesawat demi untuk melindungi wartawan itu sendiri karena umumnya pesawat yang jatuh biasanya meledak karena kemungkinan penuhnya bahan bakar,senjata peledak atau Roket, Namum wartawan menilai sebagai bentuk larangan karena ada kepentingan didalam mengambil gambar, masih menurut Jemi dirinya selalu berkoordinasi dengan setiap awak media untuk pemberitaan dan zona aman pengambilan gambar atau dokumentasi. Wartawan dan media di harapkan juga mengerti faktor phisikologi korban dan keluarga yang ditinggalkannya. Pemberitaan tentang keadaan korban yang sudah tidak utuh membuat keluarga trauma ‘

wiranto4

Acara ditutup oleh oleh Marsda TNI Purnomo dengan apresiasi berupa tanda cindera mata dari kesatuan TNI kepada seluruh narasumber yang hadir begitu juga sebaliknya yosep memberikan buku Indek kebebasan Pers tahun 2016 kepada penyelenggara FKK.

[Dyan Jaman]

Redaksi
About Redaksi 607 Articles
Penggiat Sosial dan Kemanusiaan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*