Dibawah Ancaman Petugas, Ustadz Jaelani Dipaksa Akui Sebagai Pembunuh

Ustadz Jaelani, SPd.I Bin H. Gozali Nawawi di ruang tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Timur

Budayabangsabangsa.com – Jakarta, Banyak kejanggalan dalam pengungkapan kasus pembunuhan Suminih alias Icha oleh pihak Kepolisian Polsek Cakung Jakarta Timur. Menurut keterangan Hisar Sihotang Ketua Tim Investigasi Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Jakarta Utara, Seharusnya pihak aparat kepolisian melakukan proses penyelidikan yang lebih mendalam terkait kasus ditemukannya mayat tak dikenal di jembatan fly over wilayah cakung (14/06/2016)  dengan identitas yang belakangan diketahui bernama Suminih alias Icha (38 th), katanya. “saya sudah  melakukan investigasi, dan hasilnya saya mendapatkan beberapa temuan dan keterangan baik dari keluarga tersangka maupun dari teman korban.” Ungkapnya kepada awak media.

Penasehat hukum terdakwa saat berdiskusi dengan Hisar Sihotang di PN Jakarta Timur, “Salah seorang sahabat korban berinisial TN menceritakan bahwa dia yang memperkenalkan korban (ICHA) kepada Ustadz Jaelani tahun 2015. Menurut keterangan TN, korban sebelum terbunuh ingin menemui Ustadz Jaelani sebab mempunyai masalah utang kepada rentenir yang bernama Mama Sur. Cerita korban kepada TN bahwa korban sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang laki laki berinisial AR (38 th)  yang sudah beristri. Karena AR menjanjikan akan menceraikan istrinya agar dapat menikahinya, maka Suminih sering berkeluh kesah kepada TN tentang kelakuan AR dimana AR hanya berjanji janji. Akibat janji AR maka Suminih sudah banyak berkorban baik perasaan maupun financial”. Terang TN kepada Hisar di rumahnya semper jakut.

“Ketika saya konfirmasi kepada tersangka terkait cerita diatas, Ustadz Jaelani membenarkan ungkapan teman korban. Ditambahkan bahwa sebelumnya TN, kawan korban adalah rekan satu profesi dengan Suminih. Tetapi TN rupanya sudah bertobat dan memilih pekerjaan lainnya.

Kalau saja penyidik/pihak kepolisian benar benar serius ingin mengungkap siapa pelaku pembunuhan tersebut, berdasarkan cerita kronologis Ustadz Jaelani soal pengantaran handphone kepada tersangka, polisi seharusnya membuka isi percakapan handphone si korban dimana cerita korban kepada tersangka bahwa koban sedang diancam oleh seseorang terkait hutang korban. Sayangnya hal ini tidak diselidiki lebih jauh oleh penyidik,” Ujar Ustadz Jaelani.

Ustadz Jaelani, SPd.I Bin H. Gozali Nawawi di ruang tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Berikut hasil wawancara tim investigasi PWRI terkait kronologis terbunuhnya ICHA, menurut ustadz Jaelani,”ini berawal dari telephon genggam Icha (Suminih) yang diberikan kepada saya. Oleh Titin untuk konsultasi masalah kehidupan pribadinya.

“Pada waktu itu saya (Ustadz Jaelani, S.Pd.I bin H. Gozali Nawawi)  sedang ada pengajian di majelis Sadulur, beberapa menit kemudian ada telephone masuk yang intinya Icha mau ketemuan untuk konsultasi terkait masalahnya dengan rentenir. Rencananya akan ketemu jam 22.00 WIB di Islamic center Koja Jakarta Utara, terang ustadz Jaelani.

Lanjut Jaelani, “sayapun bergegas minta izin kepada jamaah untuk meninggalkan pengajian tersebut, sekitar jam 22.00 WIB saya (Jaelani) sampai di Islamic Center, lalu bertemu dengan Suminih alias Icha, ada pun dialog antara saya dengan Icha sebagai berikut petikannya :
Jaelani  : Kok bawa helm, diantar siapa ?
Icha : Saya diantar tukang ojek pak ustadz
Jaelani : ohh… mana tukang ojeknya ?
Icha : lagi beli pulsa….kisah sang Ustadz.

“Singkat cerita, saya dan Icha menuju area masjid Islamic Center, setelah sampai di masjid saya menjelaskan ke Icha untuk berwudlu dan melaksanakan shalat taubat (memohon ampun kepada Allah) dari segala kesalahan kita, terlebih masalah terlibat hutang sama rentenir (mama Sur) dan saya pun akhirnya shalat dan wirid (membaca doa) hajat sampai jam 23.00 WIB  lalu keluar sekitar jam 23.30 WIB, keduanya (saya dan Icha) pulang masing-masing. Terus kurang lebih sekitar 12 menit, saya keliling arah keluar pasar malam Islamic Center tepatnya jam 23.42 WIB, tiba-tiba ada seorang yang tidak saya kenal memanggil-manggil, ustadz…ustadz…

Jaelani : ada apa mas,… nyari saya…?
orang tidak dikenal (OTK) : Maaf ada titipan dari mbak Icha
Jaelani: apa yah itu
OTK : ini bungkusan dari mbak Icha sebagai penajam untuk pak ustadz
Jaelani : ga usah…. Ga usah…. Saya ikhlas kok untuk membantunya, kasih ke mbak Icha lagi ajah
OTK : Aduh bagaimana yah pak ustadz, saya disuruh antar ke pak ustadz, soalnya amanat.
Jaelani : terus mbak ichanya kemana…? Kenapa bukan mbak Icha…?
OTK : maaf mbak Icha nya lagi makan nasi goreng.
Jaelani: ohhh gituuu… emang ini apa…pakai dibungkus segala…?
OTK : ga tau nih…. Mbak Icha sih bilangnya untuk penajam pak.
Sekitar Jam 23.50 WIB kemudian orang yang saya tidak kenal tersebut pun pergi lalu saya buka bungkusan tersebut ternyata isinya  Hand Phone (HP), tidak lama kemudian santri saya lewat (M. Jefri) seraya mengucap sapa :
M. Jefri : dikasih HP pak ustadz…?
Jaelani : kok kamu tahu
M. Jefri : Tadi saya lihat pak ustadz ngobrol sama yang ngasih HP, tapi takut saya mengganggu
Jaelani : ohh gitu… saya pergi duluan yah,” ungkap Jaelani

Jaelani juga menambahkan,”Sekitar jam 00.10 WIB saya pergi meninggalkan M Jefri menuju tugu NKRI, dipertengahan jalan tepatnya sekitar jam 00.35 WIB, saya mampir ke SPBU pasar Bebek untuk isi bensin, setelah itu melanjutkan perjalanan ke tugu NKRI, sekitar jam 01.35 WIB sampai, lalu saya wirid di masjid Betawi Al Karomah didepan tugu NKRI, kurang lebih 1 jam setelah itu langsung pulang ke jalan Bhakti sampai jam 03.10 WIB,  saya lalu ngobrol kurang lebih 10 menit di majelis sama Aditio Januar lalu saya masuk kamar membangunkan isteri untuk sahur bersama, saya, Adit dan isteri sahur bersama sekitar jam 03.45 WIB.

Setelah istirahat sahur selesai lanjut sholat shubuh berjamaah kemudian pengajian shubuh Robul Qutub sekitar sampai jam 07.00 WIB, kemudian saya masuk kerumah untuk persiapan sholat Dhuha dengan santri saya tidur. Jam 13.00 WIB saya pamit berangkat ke Indramayu. Begitulah kronologis sesungguhnya dan semoga dapat dijadikan sebagai bukti.”papar Jaelani.

Menurut keterangan istri tersangka saat dimintai keterangan di rumahnya mengatakan,”Bahwa berita yang beredar di beberapa media tidak benar bahwa istri tersangka cemburu kepada Ustadz Jaelani. Justru  saat korban melakukan ritual pengobatan, saya turut serta membantu Ustadz. Jadi apabila diberitakan bahwa Ustadz membunuh Icha karena cemburu itu tidak benar,katanya.

“Saya akan memperjuangkan keadilan dan perlindungan hukum bagi suami saya yang sekarang dituduh dengan dakwaan membunuh Suminih alias Icha. Dan keluarga serta kuasa hukum telah melakukan upaya pra-peradilan untuk mengungkap prosedur maupun berita acara penangkapan Ustadz Jaelani, Nampak sekali banyak kejanggalan dan ketidakadilan terhadap suami saya dan keluarga. Saya berharap para penegak hukum  memperhatikan proses hukum terhadap kasus pembunuhan Suminih yang terasa janggal,” harapnya.

“kami juga melaporkan penyidik ke Propam Mabes Polri untuk meminta perlindungan hukum, namun sampai saat ini belum ada upaya yang serius dari pihak Propam menanggapi laporan kami apakah Propam “masuk angin”, Bayangkan saja, suami saya diculik dari rumahnya, lalu dibawa ke hotel Flaminggo Indramayu jawa barat selama dua malam untuk diinterogasi dan dipaksa mengakui sebagai pembunuh Suminih alias Icha. Kalo tidak mau mengakui,  anak istrinya akan dibunuh,” Ungkap  Hj. Siti Cholilah di rumahnya Selasa (25/10/2016).

About admin 270 Articles
Seorang Admin Yang Hobi dengan Berita dan Web Programming

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*