Cara Unik Memanfaatkan Sampah Plastik di Lima Negara

Budayabangsabangsa.com

Pada dasarnya plastik adalah sebuah material yang amat berguna dalam kehidupan. Namun, mengingat masalah sampah plastik yang terjadi saat ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Semakin lama masalah sampah plastik ini terus berkembang dan telah diperkirakan bisa mencapai 250 juta ton pada 2025.

Hal ini terjadi, dikarenakan 40 persen produksi plastik global merupakan plastik sekali pakai dan tidak bisa digunakan untuk berkelanjutan. Ini setara dengan sekitar 128 juta ton.

Untuk mengurangi masalah yang ada, di berbagai negara ini memiliki cara kreatif supaya masalah sampah plastik ini tidak bertumbuh terus-menerus.

Berikut cara kreatif yang dilakukan beberapa warga negara untuk mengurangi masalah sampah plastik ini.

Indonesia, yang memanfaatkan Sampah dengan Cara Menukar Sampah untuk Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Sekitar

Di Malang, Jawa Timur sampah ditukar menjadi pengganti uang, untuk menciptakan asuransi kesehatan sampah. Hal tersebut merupakan hasil pemikiran Dr. Gamala Albinsaid yang melihat adanya keterkaitan antara kesehatan masyarakat yang tinggi dengan masalah sampah yang ada.

Masyarakat tidak perlu membawa uang, cukup dengan membawa sampah saja mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan maupun obat-obatan.

Kemudian, sampah yang telah dikumpulkan akan di daur ulang oleh Dr. Albinsaid sehingga bisa menghasilkan uang, dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan yang ia buat tersebut.

India, Menjadikan Sampah Plastik Untuk Mengaspal Jalanan

Aspal merupakan bahan utama untuk konstruksi jalan. Melihat peningkatan jumlah sampah yang ada di India, Prof. Kimia Rajagopalan Vasudevan membuat sebuah rancangan untuk mengubah sampah plastik menjadi pengganti aspal.

Ia pun optimis bahwa sampah merupakan harta karun sumber daya yang belum dimanfaatkan.

Sampah plastik ini menggantikan 15 persen aspal yang automatis menghemat dana karena plastik lebih murah dibandingkan dengan aspal yang biasa digunakan.

Uganda, Memanfaatkan Sampah Plastik Untuk Membuat Taman Hiburan.

Sampah yang bertumpuk bisa menjadi sebuah karya yang unik dan cantik di Uganda. Hal ini dibuat oleh seorang seniman dan ahli lingkungan, yakni Ruganzu Bruno.

Ia membawa seni ekologis ke daerah kumuh Kampala, Uganda. Bruno tergabung dalam Eco Art Uganda, yang merupakan kumpulan seniman yang berdedikasi untuk mempromosikan kesadaran lingkungan.

Perkumpulan tersebut kemudian menciptakan sebuah taman hiburan untuk anak-anak dari bahan dasar yang sudah tidak dipakai. Contohnya, ayunan dan permainan papan yang terbuat dari bahan dasar botol-botol plastik bekas.

Hal ini dilakukan untuk berbagai tujuan, yakni seperti memperindah lingkungan, memberdayakan masyarakat, serta mengajarkan anak-anak untuk pentingnya memanfaatkan sampah dengan cara mendaur ulang dan mengolah sampah secara optimal.

Swedia, Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Yang Bermanfaat.

Swedia merupakan negara yang dikenal dengan perkembangan lingkungannya yang progresif. Negara Skandinavia ini berhasil membangun sistem yang mengubah sampah menjadi energi yang bermanfaat secara efisien dan mampu menghasilkan energi panas untuk 950 ribu rumah tangga dan menyediakan listrik bagi 260 ribu rumah.

Swedia mendaur ulang dan memilah-milah sampahnya secara efektif. Hanya sekitar kurang dari 1% sampah saja ke tempat pembuangan akhir.

Dengan paradigma sampah sebagai komoditas, Swedia mengimpor sampah dari negara-negara Eropa untuk memenuhi kebutuhan energinya. Negara tersebut mengubah 700 sampah menjadi 250 kg energi dan bahan bakar.

Hongkong, Membangun Eco-Park di Atas Tempat Pembuangan Sampah Akhir

Tempat Pembuangan Akhir Sai Tso Wan dulunya menampung hingga 1,6 juta ton sampah. Sampah ini menumpuk hingga setinggi 65 meter atau sekitar 213 kaki.

Setelah ditutup dengan tanah pada tahun 1981, tempat ini dijadikan taman bermain multiguna pada tahun 2004. Taman bermain ini didukung oleh turbin angin, sel surya dan energi yang berasal dari metana yang dihasilkan dari sampah yang membusuk. (ZUN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*