BPI Mendesak Gubernur DKI Jakarta Memanggil Direktur Aetra

JAKARTA, Budayabangsabangsa.com  Mengamati kinerja Aetra Gorontalo Jakarta Utara "saya curiga, petugas operasi lapangan Aetra Gorontalo bekerjasama dengan petugas meteran untuk "memeras" para pelanggan dengan dalih yang tidak masuk akal, H. Rohimah Jl. Kebon bawang 1 Tanjung Priok Jakarta Utara menjadi korban kesewenang – wenangan petugas lapangan Aetra Gorontalo," ungkap Dudi, SH Ketua Badan Peneliti Independen Kekayaan Pejabat Negara dan Pengusaha Nasional DKI Jakarta kepada Awak media dikantornya Jl. Plumpang Semper Jakarta Utara Jum'at (25/09).

Menurutnya, ada persekongkolan  jahat antara petugas Opal Aetra dengan Eksekutor Aetra, bayangkan, selama 4 bulan Rohimah berlangganan air, Aetra secara tertulis menyatakan, meteran air normal dan tidak ada masalah, lalu mengapa pada bulan keenam Rohimah menempati rumah yang baru Ia beli, petugas Opal Aetra mengatakan bahwa: segel meteran tidak standar, ini sangat aneh, mengapa tidak sejak awal disampaikan kalau segel tidak standar , katanya kesal.

Lebih jauh Dudi mengatakan,"bahkan yang lebih jahat dan tidak manusiawi dalam memperlakukan pelanggannya, tindakan petugas meter yang langsung memutus meteran tanpa mediasi dan persetujuan pelanggan, saat meteran diputus, Rohimah dalam keadaan sakit, sehingga tidak bisa menyaksikan dan menandatangani BAP pemutusan meteran air miliknya, ini kan suatu tindakan tidak manusiawi dan melanggar prosedur yang ditetapkan oleh Aetra sendiri," ujarnya.

Kini Rohimah yang notabene warga negara Indonesia dan memiliki hak hidup dan menggunakan air, udara sebagai
kebutuhan hidup serta syarat hidup, telah didzolimi Aetra Gorontalo, 2 bulan sudah Rohimah tidak dapat membeli dan merasakan air untuk keperluan sehari – hari, dapat dibayangkan, bagaimana rasanya hidup tanpa air, bukankah negeri ini sudah merdeka, mengapa masih ada anak bangsa yang terluka hatinya oleh kesewenang – wenangan pengusaha bejat dan tak berprikemanusiaan, tindakan Aetra Gorontalo yang memutus meteran air Rohimah tidak boleh dibiarkan, tak hanya diputus, Rohimah juga disuruh bayar denda Rp. 3 juta atas tuduhan mengganti kipas meter air dengan yang tidak standar, padahal, suatu tindakan melawan hukum, menuduh seorang anak bangsa tanpa persidangan, polisi saja tidak dapat mengatakan seseorang terpidana tanpa sebuah proses gelar perkara di Pengadilan, tetapi dengan gagahnya, Aetra menuduh Rohimah melakukan tindakan pelanggaran dan mendenda Rp. 3 juta atas kesalahan yang dituduhkan tanpa sidang tersebut.

Ketua Badan Peneliti Independen DKI Jakarta (BPI), Dudi, SH mendesak Gubernur DKI Jakarta untuk menghentikan arogansi, sewenang – wenang dan tindakan melawan hukum Aetra tersebut, jika tidak, Aetra akan lebih brutal terhadap pelanggannya, padahal semua hanya berorientasi pada uang, bukan kualitas pelayanan," tegas Dudi

"saya akan mengirim surat kepada Gubernur DKI Jakarta, DPRD DKI Jakarta,YLKI dan Presiden RI guna mendesak Pemerintah untuk memanggil Dirut Aetra atas tindakan ceroboh Aetra terhadap Rohimah dan ratusan pelanggan lain yang merasa didzolimi Aetra, kami memiliki data ratusan pelanggan Aetra yang didzolimi," pungkasnya geram. (Rukmana)

 
 
About admin 269 Articles
Seorang Admin Yang Hobi dengan Berita dan Web Programming

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*